Kalam

Zakat Fitri: Waktu, Kadar Pembayaran, dan Penerima

Ilustrasi Ramadan

Zakat fitri merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh umat Islam yang mempunyai rizki. Waktu pelaksanaannya adalah sebelum umat Islam melaksanakan salat Id. Dalam dokumen Tuntunan Ramadan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah disebutkan,

إذا رغبت شمس أخر رمضان وكان لك ساعة فأد زكاة الفطر صاعا من طعامك قبل الصلاة طهرة لصومك طعمة للمساكين

Artinya, “apabila terbenam matahari pada akhir Ramadan, sedang kamu berkelapangan rizki, maka keluarkanlah zakat fitri sebanyak satu sha’ dari bahan makananmu sebelum salat Id untuk membersihkan puasamu dan untuk makanan orang-orang miskin”.

Teks tersebut menjelaskan beberapa hal, yakni: (a) kewajiban membayar zakat fitri; (b) waktu pembayarannya, yakni ketika telah terbenam matahari akhir Ramadhan hingga sebelum melaksanakan salat Id (atau boleh dipercepat sebelum waktunya); (c) orang yang mengeluarkan zakat fitri adalah orang yang berkelapangan rizki; (d) kadar zakat fitri yang dibayarkan yaitu satu sha’; (e) objek zakat fitri adalah bahan makanan pokok, dan; (f) orang yang berhak menerima zakat fitri adalah orang fakir dan miskin.

Dalam berbagai literatur hadis dijelaskan bahwa zakat fitri merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Hadis yang diriwayatkan ibn Abbas, misalnya, menjelaskan bahwa kewajiban zakat fitri adalah dalam rangka mensucikan diri orang yang berpuasa dari hal yang sia-sia dan untuk memberi makan orang miskin (“zakāta al-fithri thuhratan li ash-shāim min al-laghwi wa al-rafatsi wa thu’matan li al-miskīn”).

Dari keterangan itu pula, jelas bahwa zakat fitri hanya diserahkan kepada fakir dan miskin, bukan untuk ashnaf zakat yang lain. Di dalam Putusan Tarjih, –berdasarkan keumuman nash al-Quran surat at-Thalaq [65]: 7 dan berbagai riwayat hadits—disebutkan bahwa yang diwajibkan membayar zakat fitri adalah orang yang berkelapangan rizki, adapun yang berhak menerimanya adalah mereka yang tergolong fakir dan miskin.

Baca Juga: Zakat Produktif dan Pemberdayaan Ekonomi Umat

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa waktu penunaian zakat fitri adalah adalah sebelum salat Id. Adapun jika ditunaikan sesudah salat id, maka itu hanyalah sedekah biasa. “Man addāhā ba’da al-shalāti fa hiya al-shadaqah min al-shadaqāti” (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah).

Kewajiban atas zakat fitri dibebankan kepada umat Muslim yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan. Oleh karenanya, ditetapkan batas pembayarannya, yakni satu sha’. Satu sha’ sama dengan 2,5 kg beras. Menurut Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Syamsul Anwar, penetapan kadar zakat fitri sebesar 2,5 merupakan jalan tengah dari perbedaan timbangan berbagai macam beras.

“Kadar zakat fitri tidak perlu ditingkatkan sampai 3 kg atau lebih, karena banyak masyarakat Indonesia yang kemampuan ekonominya minim, meskipun hal itu tidak terasa oleh kelas menengah ke atas,” terang Syamsul dalam artikel yang dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah (Mei, 2022). Meski begitu, orang yang membayar zakat fitri lebih dari ketentuan tersebut diperbolehkan dan dipandang sebagai tathawuk.

Sebaiknya zakat fitri dikumpulkan pada panitia zakat (amil zakat), agar dapat dibagikan secara merata dan teratur. (sb)

Related posts
Finansial

Efek Positif Ramadan dan Lebaran bagi Ekonomi Umat

Oleh: Leonita Siwiyanti* Selama bulan Ramadan, pasar tradisional menjadi pusat aktivitas pedagang dalam menjajakan berbagai makanan khas untuk berbuka puasa. Hal ini…
Berita

Santunan Keluarga Aisyiyah Digelar MKS PCA Kotagede

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Pada Jumat (5/4) di rumah keluarga Ari, Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kotagede  menggelar Taawun…
Berita

Refleksi Ramadan 1445 H, Haedar Nashir: Lulus dengan Predikat sebagai Insan yang Bertakwa

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Ramadan 1445 H berakhir, tentu yang diharapkan dari yang menjalankan Ibadah Puasa Ramadan adalah lulus dengan predikat sebagai…

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *